Semua Rata Tanah! Lahar Semeru Menerjang Seperti Tsunami Raksasa, Akses Desa Terputus

LACI BERITA – Bencana alam kembali melanda Kabupaten Lumajang setelah hujan deras yang mengguyur kawasan puncak Gunung Semeru memicu banjir lahar dingin yang sangat besar. Pada Kamis malam (20/11/2025), aliran material vulkanik yang bercampur air, pasir, dan batu-batu besar itu menerjang beberapa daerah aliran sungai (DAS), termasuk Kali Regoyo dan Kali Besuk Sat, dengan kekuatan yang masif.

Kekuatan dan kecepatan lahar kali ini, yang jauh di atas rata-rata kejadian sebelumnya, membuat warga sekitar DAS mengungsi dalam kepanikan. Banyak di antara mereka, terutama yang tinggal di desa-desa yang berbatasan langsung dengan aliran lahar, menggambarkan momen mengerikan itu sebagai melihat “tsunami raksasa” yang datang dari gunung.

Aliran Hitam Pekat Menggulung Segala

Saksi mata di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, menuturkan bahwa awalnya hanya terdengar suara gemuruh yang kian lama kian memekakkan telinga. Dalam hitungan menit, sungai yang biasanya hanya berisi sedikit air kini dipenuhi oleh massa berwarna hitam pekat yang bergerak cepat.

“Semuanya terjadi begitu cepat. Saya kira itu sungai biasa meluap, tapi suaranya beda, seperti gempa bumi dan gemuruh air laut yang datang. Ketika saya lihat, itu bukan air, tapi bubur hitam yang membawa pohon sebesar tiang dan batu-batu. Benar-benar seperti tsunami raksasa yang muncul dari lereng,” ujar Pak Hadi (58), seorang warga yang rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari sungai.

Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mengonfirmasi bahwa amplitudo getaran banjir lahar dingin ini sempat tercatat overscale atau melebihi batas ukur di Pos Pemantauan Gunung Api (PPGA) Semeru sebelum akhirnya mencapai puncaknya, menandakan debit dan energi yang sangat besar.

Dampaknya sangat parah. Sejumlah laporan awal menyebutkan bahwa rumah-rumah semi permanen di tepi sungai, tanggul penahan, hingga fasilitas umum dan lahan pertanian rata dengan tanah atau tertimbun material vulkanik setebal beberapa meter.

Infrastruktur Putus, Warga Terisolasi

Banjir lahar dingin yang masif ini telah memutus akses vital yang menghubungkan desa-desa di lereng Semeru. Jembatan gantung yang berfungsi sebagai penghubung utama antar dusun dilaporkan putus total, sementara beberapa ruas jalan yang melintasi DAS tertimbun lahar.

“Kami sekarang terisolasi. Jembatan utama putus. Beberapa keluarga di seberang sungai tidak bisa kami jangkau. Komunikasi juga sulit karena aliran listrik padam,” ungkap Kepala Desa Supiturang, yang wilayahnya merupakan salah satu yang terdampak paling parah.

Selain itu, aktivitas penambangan pasir yang berlokasi di beberapa titik DAS juga dilaporkan mengalami kerugian besar, di mana alat berat seperti ekskavator dan truk dilaporkan terseret derasnya lahar. Beberapa penambang yang berada di lokasi harus berlarian menyelamatkan diri secara panik.

Mobilisasi dan Mitigasi Darurat

Pemerintah Kabupaten Lumajang segera menetapkan status siaga darurat. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pendataan kerugian. Ratusan warga yang tinggal di zona merah dan di sepanjang DAS Semeru telah diungsikan ke lokasi yang lebih aman, seperti balai desa dan posko pengungsian terdekat.

Bupati Lumajang, dalam konferensi pers darurat, meminta seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat curah hujan yang masih tinggi berpotensi memicu banjir lahar susulan.

“Kami melihat volume material yang dibawa Semeru kali ini sangat besar, mirip dengan kejadian besar beberapa tahun lalu. Prioritas kami saat ini adalah keselamatan warga, memastikan tidak ada korban jiwa, dan menyediakan kebutuhan dasar bagi para pengungsi,” tegasnya.

Peristiwa ini kembali mengingatkan semua pihak akan sifat Gunung Semeru yang memiliki karakteristik material vulkanik berat. Material yang menumpuk di puncak dan lereng, jika bertemu air hujan deras, akan membentuk aliran massa yang destruktif, bergerak cepat, dan dapat menjangkau jarak jauh melalui percabangan sungai.

Mitigasi jangka panjang, termasuk perbaikan dan peninggian tanggul, serta penataan kembali zona aman di sekitar DAS, menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk mencegah tragedi massal terulang kembali. Warga diimbau untuk selalu mematuhi rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan segera mengevakuasi diri jika terdengar gemuruh atau intensitas hujan meningkat di lereng gunung.

Back To Top