LACI BERITA – Konflik bersenjata antara dua negara tetangga Indonesia, Thailand dan Kamboja, telah memasuki fase yang semakin mengerikan dan tak terkendali. Awal Desember 2025, setelah gencatan senjata yang diprakarsai oleh negara-negara mediator, pertempuran kembali meledak di sejumlah titik sepanjang perbatasan yang disengketakan. Akibatnya, situasi kini berubah dari sekadar ketegangan menjadi perang terbuka yang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat sipil di kawasan tersebut.
Escalation: Dari Skirmish ke Konflik Besar
Pertempuran yang terjadi bukan lagi sekadar tembakan artileri ringan atau baku tembak sporadis. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kedua belah pihak telah menggunakan alat perang berat seperti pesawat jet tempur, roket BM-21, dan serangan udara strategis di wilayah perbatasan. Thailand dilaporkan melakukan airstrike terhadap target militer di Kamboja, sementara Kamboja membalas dengan serangan roket yang bahkan mengenai kawasan sipil di Thailand.
Salah satu insiden paling tragis baru-baru ini adalah ketika seorang warga sipil Thailand berusia 63 tahun tewas akibat serangan roket dari Kamboja, menandai kematian sipil pertama yang dikonfirmasi di pihak Thailand dalam eskalasi ini. Pemerintah Thailand juga mengklaim puluhan tentara tewas, sementara Kamboja menyebut angka korban militer mereka lebih rendah namun tetap menegaskan ada dampak signifikan dari serangan udara Thailand.
Thailand bahkan memberlakukan jam malam di wilayah perbatasan Provinsi Trat untuk menekan kekacauan dan melindungi warga sipil dari pertempuran yang makin intensif.
Dampak Sipil: Ribuan Tewas dan Ratusan Ribu Mengungsi
Selain korban tewas, yang paling mengerikan adalah dampak terhadap penduduk sipil. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai ratusan ribu orang di kedua sisi perbatasan. Banyak desa dan kota kecil terpaksa ditinggalkan karena pertempuran sengit yang tak kunjung mereda. PBB dan organisasi kemanusiaan dunia telah memperingatkan krisis kemanusiaan di kawasan ini semakin memburuk jika konflik terus meningkat.
Situasi ini menjadi lebih “horor” karena ratusan ribu warga tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga akses ke layanan kesehatan, air bersih, dan makanan pokok. Rumah sakit dan sekolah di zona pertempuran dilaporkan rusak akibat serangan, sehingga memperburuk penderitaan warga sipil.
Respons Internasional dan Seruan Perdamaian
Konflik ini telah menarik perhatian dunia. Para pemimpin internasional menyerukan gencatan senjata serta penyelesaian damai melalui dialog. Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sempat memediasi gencatan senjata sebelumnya, menegaskan kembali komitmennya untuk mendorong kedua negara kembali ke meja perundingan. Namun, upaya ini sejauh ini menghadapi tantangan besar karena kedua pihak saling menuduh pihak lain sebagai pemicu ketegangan terbaru.
Uni ASEAN, organisasi regional tempat Indonesia berperan aktif, juga telah mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi damai melalui mekanisme diplomatik. Sejumlah negara anggota mengingatkan bahwa konflik berskala besar antarnegara di Asia Tenggara akan berdampak luas terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi regional.
Selain itu, Indonesia sendiri melalui pernyataan resmi mengingatkan pentingnya penyelesaian damai sesuai semangat Piagam ASEAN dan Perjanjian Persahabatan yang sudah disepakati antarnegara anggota. Pemerintah Indonesia juga secara aktif memantau keselamatan warganya yang mungkin berada di wilayah konflik serta mendesak dialog segera dilaksanakan.
Perdagangan dan Ekonomi Terancam
Situasi perang ini juga memicu kekhawatiran ekonomi. Thailand dikabarkan mempertimbangkan melarang ekspor bahan bakar minyak (BBM) ke Kamboja sebagai bagian dari langkah tekanan terhadap lawan. Langkah ini bisa memperburuk krisis ekonomi di Kamboja, yang sangat bergantung pada aliran energi dari luar negeri.
Pemutusan hubungan ekonomi seperti ini bukan sekadar dampak sampingan hal itu mencerminkan bagaimana perang telah merambah ke ranah sanksi dan tekanan ekonomi yang lebih luas, yang berpotensi menambah penderitaan rakyat biasa di kedua negara.
Ancaman Meluas dan Risiko Regional
Para pengamat keamanan regional memperingatkan bahwa konflik bilateral ini bisa berdampak lebih luas jika tidak segera diredakan. Risiko konflik berkepanjangan bisa menimbulkan krisis pengungsi lintas batas, gangguan stabilitas perbatasan negara-negara ASEAN lain, dan bahkan daya tarik bagi kekuatan besar di luar kawasan untuk terlibat demi kepentingan geopolitik mereka sendiri.
Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN dan sekutu penting kawasan, dipandang mampu memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan melalui diplomasi multilateral dan tekanan diplomatik yang konstruktif.
