Laci Berita – Dunia internasional kembali dikejutkan oleh laporan dramatis dari pusat kekuasaan Republik Islam Iran. Hanya berselang beberapa hari setelah penunjukannya, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka dalam gelombang serangan rudal presisi yang diluncurkan oleh kekuatan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Insiden ini menandai titik paling kritis dalam sejarah kepemimpinan Iran sejak Revolusi 1979, di mana suksesi kepemimpinan yang baru saja dilakukan langsung dihantam oleh operasi militer skala penuh.
Pemimpin Tertinggi Baru Iran Kena Rudal Israel AS Begini Kondisinya
Penunjukan Mojtaba Khamenei oleh Majelis Ahli pada 8 Maret 2026 dilakukan dalam situasi darurat nasional menyusul kematian ayahnya, Ali Khamenei, dalam serangan udara akhir Februari. Namun, masa kepemimpinannya dimulai dengan tragedi. Laporan dari intelijen Barat dan dikonfirmasi oleh duta besar Iran di Siprus menunjukkan bahwa Mojtaba berada di lokasi saat kompleks kepresidenan di Teheran diratakan oleh rudal.
Kondisinya saat ini menjadi simpang siur, namun sumber internal Teheran menyebutkan bahwa ia menderita luka serius pada bagian tangan dan kaki. Meski media pemerintah Iran berusaha menampilkan kesan bahwa pemerintahan tetap berjalan stabil dengan menyebutnya sebagai “veteran terluka dalam Perang Ramadan,” ketidakhadirannya secara fisik di depan publik memicu spekulasi mengenai kapasitas kepemimpinannya di masa depan.
Target Operasi Epic Fury Memenggal Komando
Serangan yang melukai Mojtaba Khamenei merupakan bagian dari operasi “Epic Fury” yang dicanangkan pemerintahan Donald Trump. Tujuan utama dari serangan ini bukan sekadar penghancuran infrastruktur nuklir, melainkan “dekapitasi” atau pemenggalan rantai komando tertinggi Iran. Pentagon mengklaim bahwa dengan menargetkan individu-individu kunci di eselon atas pemerintahan, moral tempur Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akan goyah.
Selain pemimpin tertinggi, puluhan pejabat senior dan komandan tinggi IRGC dilaporkan tewas dalam serangan yang sama. Hal ini menciptakan kekosongan kekuasaan parsial yang memaksa Dewan Kepemimpinan Transisi untuk bekerja ekstra keras menjaga stabilitas domestik di tengah gelombang protes warga yang mulai pecah di beberapa kota besar seperti Teheran dan Isfahan.
Dampak Global Dan Respons Militer Iran
Kondisi kritis pemimpin baru ini tidak membuat Iran menyerah. Sebaliknya, IRGC justru meluncurkan operasi “Ya Ali ibn Abi Talib”, sebuah serangan balasan masif yang melibatkan penembakan rudal balistik Khorramshahr-4 selama tiga jam nonstop ke arah pangkalan AS di Erbil dan Haifa, Israel.
Dampak dari “rudal yang mengenai pemimpin” ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus angka psikologis baru. Ketidakpastian mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali di Teheran—apakah Mojtaba dari tempat perawatannya ataukah para jenderal IRGC—membuat upaya diplomasi internasional menemui jalan buntu.
Penutup: Masa Depan Yang Kelabu
Saat ini, kondisi Mojtaba Khamenei terus dipantau oleh tim dokter terbaik dalam pengawasan ketat pasukan elit. Jika ia gagal pulih dalam waktu dekat, Iran mungkin akan menghadapi krisis konstitusional kedua dalam satu bulan. Bagi AS dan Israel, serangan ini adalah pembuktian kekuatan, namun bagi kawasan Timur Tengah, ini adalah lonceng peringatan akan perang panjang yang biaya manusia dan finansialnya terus membengkak tanpa henti.
