Panas! Presiden Kolombia Tantang Balik Trump soal Tuduhan Narkoba

Panas! Presiden Kolombia Tantang Balik Trump soal Tuduhan Narkoba

LACI BERITA – Hubungan diplomatik antara Kolombia dan Amerika Serikat berada di titik nadir setelah Presiden Kolombia, Gustavo Petro, melontarkan pernyataan keras sebagai tanggapan atas tuduhan bertubi-tubi dari Presiden AS Donald Trump. Petro menyatakan kesiapannya untuk “angkat senjata” demi membela kedaulatan tanah airnya setelah Trump melabelinya sebagai pengedar narkoba dan memberikan sinyal intervensi militer.

Perseteruan ini memanas menyusul serangkaian pernyataan provokatif dari Gedung Putih. Trump, dalam pernyataannya awal Januari 2026, menyebut Petro sebagai “orang sakit” yang mengoperasikan pabrik kokain dan menyuplai barang haram tersebut ke Amerika Serikat. Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan mengisyaratkan bahwa opsi militer, serupa dengan operasi yang dilakukan di Venezuela, bisa saja diterapkan terhadap Kolombia.

Respon Keras Gustavo Petro

Menanggapi ancaman tersebut, Gustavo Petro melalui akun media sosial resminya dan dalam pidato nasional di Bogota, menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam. Petro, yang merupakan mantan gerilyawan M-19 sebelum akhirnya beralih ke jalur politik demokratis, menyatakan bahwa harga dirinya dan kedaulatan rakyat Kolombia sedang dipertaruhkan.

“Saya telah bersumpah untuk tidak akan menyentuh senjata lagi demi perdamaian. Namun, jika demi mempertahankan tanah air dari fitnah dan agresi luar, saya akan mengangkat senjata kembali,” tegas Petro. Ia juga memperingatkan bahwa ancaman pengeboman atau intervensi militer AS hanya akan membangkitkan perlawanan rakyat. “Jika mereka mengebom, para petani kami akan berubah menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan. Jangan memancing ‘jaguar rakyat’ untuk bangun.”

Petro menepis tuduhan Trump sebagai fitnah tanpa bukti hukum. Ia menegaskan bahwa namanya tidak pernah tercatat dalam catatan pengadilan mana pun terkait kasus narkoba. Sebaliknya, Petro balik menuding bahwa masalah narkoba di Amerika Serikat adalah kegagalan domestik AS dalam menangani konsumsi, sementara Kolombia terus menjadi korban dari “perang melawan narkoba” yang dipaksakan selama puluhan tahun.

Sanksi dan Tekanan Ekonomi

Ketegangan ini bukan sekadar perang kata-kata. Sejak akhir 2025, pemerintahan Trump telah mengambil langkah-langkah drastis terhadap Kolombia, termasuk:

  • Penghentian Bantuan Keuangan: Trump memutus seluruh bantuan ekonomi ke Kolombia dengan alasan kegagalan Bogota dalam menekan produksi kokain.
  • Sanksi Pribadi: Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Petro, istrinya, dan beberapa lingkaran dalamnya, membekukan aset mereka di AS dan melarang transaksi keuangan dengan entitas Amerika.
  • Pengerahan Militer: AS meningkatkan kehadiran kapal perang di Karibia dan Pasifik Timur, yang diklaim untuk mencegat aliran narkoba namun dipandang oleh Bogota sebagai bentuk intimidasi kedaulatan.

Konteks Regional dan Dampak Geopolitik

Ancaman terhadap Kolombia ini terjadi di tengah dinamika panas di Amerika Latin. Setelah AS mengambil tindakan keras terhadap rezim Nicolas Maduro di Venezuela, Kolombia kini tampak menjadi target berikutnya dalam agenda kebijakan luar negeri Trump di kawasan tersebut. Trump secara terbuka menyatakan bahwa tindakan terhadap negara-negara yang dianggap “memasok kematian” (narkoba) ke AS “terdengar bagus” baginya.

Di sisi lain, Petro menyerukan solidaritas Amerika Latin untuk menentang apa yang disebutnya sebagai “arogansi kekaisaran.” Ia menekankan bahwa solusi terhadap masalah narkoba bukanlah melalui militerisme, melainkan melalui substitusi tanaman pangan bagi petani dan regulasi, sebuah pendekatan yang sangat bertolak belakang dengan kebijakan garis keras Washington.

Masa Depan Hubungan Bilateral

Para analis internasional memperingatkan bahwa jika retorika ini terus meningkat menjadi aksi fisik, hal itu dapat memicu destabilisasi besar-besaran di kawasan tersebut. Kolombia, yang selama ini menjadi sekutu terdekat AS di Amerika Selatan, kini justru berada di ambang konfrontasi terbuka dengan Washington.

Petro menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa dirinya adalah presiden yang terpilih secara sah melalui mandat rakyat.

“Berhentilah memfitnah saya, Tuan Trump. Anda menghadapi seorang pemimpin rakyat, bukan seorang pengecut,” pungkasnya.

Back To Top