LACI BERITA – Enam siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dari Indonesia kembali mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka berhasil menciptakan sebuah inovasi teknologi yang diberi nama Omnisense: AI-Powered Assistive Headgear for the Visually Impaired (Perangkat Bantu Kepala Bertenaga AI untuk Tunanetra).
Karya luar biasa ini tidak hanya menarik perhatian juri, tetapi juga sukses menyabet medali emas di ajang bergengsi International Science and Invention Fair (ISIF) ke-7. Prestasi ini menjadi bukti nyata potensi besar generasi muda Indonesia dalam memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan solusi yang berdampak sosial dan kemanusiaan.
Menang Emas dan Penghargaan Khusus di ISIF
Enam siswa kelas XII dari SMA Mentari Intercultural School Jakarta ini berkolaborasi dengan tekun untuk mengembangkan perangkat bantu bagi penyandang tunanetra. Kerja keras mereka terbayar lunas setelah berhasil meraih medali emas di kategori teknologi pada ISIF ke-7, sebuah kompetisi ilmiah hibrida yang dinaungi oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan Universitas Diponegoro.
Lebih membanggakan lagi, tim ini juga dianugerahi Resolution Special Award dari Research and Entrepreneurship Solution. Penghargaan ganda ini menggarisbawahi keunggulan inovasi Omnisense, tidak hanya dari segi teknologi, tetapi juga potensi kebermanfaatannya yang luas dan solutif.
Tim yang dipimpin oleh Bagoes Satrio Djajoesman selaku Team Leader dan Founder Perseus AI ini mengaku bahwa proyek ini sangat menantang.
“Ini sangat menantang. Butuh kerja sama solid, kesabaran, dan ketelitian dalam pembuatan produknya. Alhamdulillah, pada saat penjurian semua alat-alat berfungsi dengan baik,” ungkap Bagoes.
Bagaimana Omnisense Bekerja?
Omnisense adalah sebuah perangkat penutup kepala (headgear) canggih yang terintegrasi dengan teknologi AI. Alat ini dirancang khusus untuk meningkatkan kemandirian dan keamanan para penyandang tunanetra dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Secara sederhana, Omnisense bekerja dengan memanfaatkan sensor dan kamera yang tertanam pada perangkat untuk memindai lingkungan sekitar penggunanya. Data visual yang ditangkap kemudian diproses secara real-time oleh algoritma Kecerdasan Buatan.
Fungsi utama Omnisense meliputi:
-
Pendeteksi Objek dan Hambatan: Perangkat ini mampu mengidentifikasi objek di depan pengguna, seperti tiang, tangga, kendaraan, hingga lubang, dan memberikan peringatan dini.
-
Navigasi Suara: Hasil pemrosesan AI diubah menjadi panduan audio yang diucapkan melalui earphone yang terhubung dengan headgear. Panduan suara ini membantu pengguna untuk menavigasi rute dengan aman dan akurat.
-
Pengenalan Wajah dan Benda: Dalam versi yang lebih canggih, Omnisense juga dapat memproses data untuk mengenali wajah orang yang dikenal, bahkan mengidentifikasi benda-benda spesifik seperti uang kertas atau rambu lalu lintas, memberikan deskripsi verbal kepada pengguna.
Inovasi ini dinilai jauh lebih unggul daripada tongkat atau alat bantu konvensional, karena memberikan dimensi indra yang lebih kaya dan interaktif terhadap lingkungan sekitar. Hal ini memungkinkan penyandang tunanetra untuk ‘melihat’ dunia melalui kecerdasan buatan dan suara.
Cita-cita Melangkah Jauh: Dari Kompetisi ke Penerapan Nyata
Keenam siswa, yang memiliki passion yang sama dalam bidang teknologi, computer science, dan engineering, bercita-cita untuk tidak berhenti pada penghargaan ini. Mereka berharap inovasi Omnisense dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk massal yang terjangkau dan dapat digunakan oleh komunitas tunanetra di seluruh Indonesia.
“Prestasi ini tidak hanya membanggakan sekolah dan keluarga, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia. Kami bercita-cita untuk terus berkreasi dan mengharumkan nama Indonesia melalui inovasi-inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi banyak orang dalam kehidupan sehari-hari,” kata salah satu anggota tim.
Pencapaian ini sekaligus menjadi dorongan bagi sektor pendidikan dan teknologi di Indonesia untuk terus mendukung proyek-proyek inovatif yang berorientasi pada solusi sosial. Karya Omnisense menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) yang terintegrasi dengan etika dan kemanusiaan akan menghasilkan talenta-talenta luar biasa yang mampu bersaing dan memberikan kontribusi global.
Pemerintah dan pihak industri diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam mendukung hilirisasi dan pengembangan lebih lanjut dari Omnisense, sehingga perangkat AI ini dapat segera membantu ribuan penyandang tunanetra di tanah air untuk hidup lebih mandiri dan berdaya.
