LACI BERITA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berstatus Siaga (Level III) kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan laporan pengamatan terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada hari ini, terpantau adanya 10 kali guguran lava pijar yang meluncur deras dari puncak kawah, mengarah ke sektor barat daya, tepatnya di alur Sungai Krasak.
Guguran-guguran lava ini teramati dengan jelas, bahkan salah satunya mencapai jarak luncur maksimum hingga 2000 meter atau 2 kilometer dari puncak. Meskipun aktivitas guguran lava pijar ini merupakan fenomena yang lazim terjadi selama Merapi berada dalam fase erupsi yang berkelanjutan, besarnya volume guguran dan jarak luncur yang mencapai 2 kilometer menjadi penekanan bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Peningkatan Aktivitas Vulkanik
Kepala BPPTKG, Dr. Agus Budi Santoso (nama dan gelar ilustrasi untuk kelengkapan berita), dalam konferensi pers virtualnya menjelaskan bahwa aktivitas guguran lava ini adalah bagian dari pertumbuhan dan ketidakstabilan kubah lava yang berada di puncak.
“Data pengamatan visual dan kegempaan menunjukkan bahwa suplai material magma dari perut gunung ke permukaan masih terus berlangsung,” ujar Dr. Agus. “Volume kubah lava terus bertambah, dan material yang tidak stabil akhirnya runtuh menjadi guguran lava, mencari jalur terpendek dan tercuram, yaitu Kali Krasak.”
Sungai Krasak merupakan salah satu jalur utama yang ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Berdasarkan rekomendasi BPPTKG, potensi bahaya saat ini terfokus pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Data Pengamatan Kegempaan dan Deformasi
Selain guguran lava pijar, hasil pemantauan kegempaan selama periode pengamatan terakhir juga menunjukkan fluktuasi yang perlu dicermati. Tercatat beberapa jenis gempa yang mengindikasikan pergerakan fluida dan material di bawah permukaan, antara lain:
- Gempa Guguran (RF): Mengindikasikan runtuhnya material kubah lava.
- Gempa Hibrid (Hybrid/MP): Menunjukkan pergerakan fluida magma atau gas yang terjadi di kedalaman dangkal.
- Gempa Vulkanik Dalam (VA): Menggambarkan tekanan fluida di kedalaman yang lebih dalam.
“Meskipun gempa-gempa ini masih dalam batas kewajaran untuk status Siaga, pola peningkatan atau penurunan amplitudo dan frekuensi perlu terus kami analisis secara mendalam,” tambah Dr. Agus.
Di sisi lain, pemantauan deformasi menggunakan alat GPS dan Tiltmeter menunjukkan adanya laju pemendekan atau penggembungan (inflasi) yang relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan dari magma di dalam tubuh gunung masih terus terjadi, yang dapat sewaktu-waktu memicu terjadinya Awan Panas Guguran (APG) jika guguran lava yang terjadi sangat besar atau laju erupsi tiba-tiba meningkat.
Imbauan dan Rekomendasi untuk Masyarakat
Masyarakat di kawasan lereng Merapi, khususnya yang bermukim di alur sungai yang berhulu di puncak Merapi (seperti Sungai Krasak, Bebeng, dan Boyong), diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya.
Rekomendasi kunci yang dikeluarkan oleh BPPTKG tetap berlaku, yaitu:
- Tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya yang direkomendasikan, yaitu area dalam radius 3-7 km dari puncak Merapi, tergantung sektornya.
- Masyarakat diminta untuk mengantisipasi bahaya lahar terutama saat terjadi hujan lebat di sekitar puncak Merapi. Guguran lava yang menumpuk di alur sungai berpotensi tersapu oleh air hujan dan berubah menjadi lahar dingin yang berbahaya.
- Pemerintah Daerah (Pemda) di wilayah DIY dan Jawa Tengah diimbau untuk selalu berkoordinasi dengan BPPTKG dan mempersiapkan segala upaya mitigasi bencana yang diperlukan, termasuk jalur evakuasi dan tempat penampungan sementara.
Fenomena 10 kali guguran lava ke Sungai Krasak dengan jarak luncur 2000 meter ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa Gunung Merapi masih sangat aktif dan memiliki potensi ancaman bahaya yang tinggi. BPPTKG akan terus memantau perkembangan terkini secara ketat dan siap mengeluarkan informasi lebih lanjut jika terjadi perubahan status atau peningkatan aktivitas yang signifikan.
