Kisah Pilu Kebakaran 7 Apartemen di Hong Kong, Banyak Keluarga Hilang

Kisah Pilu Kebakaran 7 Apartemen di Hong Kong, Banyak Keluarga Hilang

LACI BERITA – Pada Rabu, 26 November 2025 sore waktu setempat, sebuah kebakaran besar melanda kompleks perumahan di distrik Tai Po, Hong Kong tepatnya di Wang Fuk Court, sebuah kompleks hunian subsidized yang terdiri dari delapan menara apartemen. Api diketahui mulai dari bagian luar gedung, yakni dari bambu penopang renovasi (scaffolding bambu) yang dipasang di sekitar bangunan.

Kebakaran dengan cepat menjalar ke gedung–gedung lain di kompleks. Dalam hitungan menit menjadi kobaran besar, dengan asap dan api membubung tinggi, memaksa evakuasi massal. Menara yang terbakar mencapai tujuh dari delapan gedung di kompleks tersebut.

Warga yang tengah menjalani perbaikan atau renovasi mendadak menghadapi horor koridor dan tangga penuh asap, jendela dan pintu pun sudah ditutup karena perbaikan, sehingga banyak penghuni mendadak terjebak.

Salah satu penghuni lama, 66 tahun, bernama Harry Cheung, mengatakan ia mendengar ledakan keras sekitar pukul 14:45 dan segera melihat api berkobar dari menara di sebelah apartemennya.

”Saya langsung kembali untuk mengemasi barang-barang,” ujar Harry, seperti dikutip oleh media.

Tragedi pun mulai terkuak banyak keluarga panik, saling mencari anggota keluarga. Di tengah kepanikan, kontak komunikasi putus; banyak orang yang mengaku terakhir berbicara lewat telepon dengan anggota keluarganya sebelum kebakaran, dan kemudian hilang. Misalnya, seorang pria bernama Lawrence Lee mengatakan istrinya masih terjebak di dalam unit apartemen. Ia sempat menelepon, menyuruh istrinya lari, namun asap pekat dan gelap membuat pelarian menjadi mustahil akhirnya, sang istri memilih kembali ke apartemen.

Korban, Hilang, dan Kepanikan Keluarga

Semula, laporan resmi menyebut 13 orang tewas akibat kebakaran sembilan di tempat kejadian dan empat lainnya kemudian wafat di rumah sakit, dengan turut serta sejumlah luka-luka berat. Sekitar 700 orang langsung dievakuasi ke tempat penampungan sementara.

Namun, seiring upaya pemadam dan pencarian korban, jumlah korban tewas terus meningkat. Pada Kamis (27 November 2025), otoritas setempat mengonfirmasi angka 44 orang tewas, dan sekitar 279 orang dilaporkan hilang atau belum bisa dihubungi.

Belakangan, angka korban terus bertambah korban tewas telah mencapai 55 orang, menurut pernyataan resmi dari departemen pemadam kebakaran. Sementara ratusan orang lainnya diperkirakan masih terjebak atau hilang, menimbulkan duka mendalam.

Di antara para korban terdapat warga sipil banyak lansia dan keluarga dengan anak serta ada juga petugas pemadam kebakaran yang ikut gugur dalam penyelamatan.

Bagi sanak keluarga, masa-masa berikutnya diliputi kecemasan. Rasa tidak pasti apakah orang yang mereka cintai selamat atau tidak. Banyak dari mereka yang mengaku masih berusaha mencari kabar: menelpon rumah sakit, mencari daftar korban, mengunjungi lokasi penampungan, berharap ada keajaiban. Namun api dan asap telah merenggut kemungkinan itu. Kisah seperti yang dialami Lawrence Lee yang kehilangan istrinya hanyalah salah satu contoh dari rasa pilu yang membungkam banyak keluarga.

Penyebab: Negligensi Renovasi & Bambu Scaffolding

Penyebab kebakaran ini menurut laporan awal adalah kombinasi faktor: scaffolding bambu yang dipakai dalam renovasi, jaring pelindung eksternal, serta penggunaan material yang mudah terbakar seperti panel busa plastik dekat lobi lift. Api awal diperkirakan muncul di bagian scaffolding luar gedung, lalu cepat merambat ke dalam unit hunian karena struktur bangunan dan jarak antara menara yang rapat.

Penyelidikan awal juga menyebutkan aspek kelalaian: perusahaan kontraktor yang menangani renovasi, Prestige Construction and Engineering Company, kini sedang diselidiki tiga orang dari perusahaan tersebut telah ditangkap atas tuduhan kelalaian berat (manslaughter). Polisi menemukan bukti dugaan penggunaan material yang tidak sesuai standar, serta scaffolding tradisional bambu yang seharusnya tidak lagi lazim dipakai mengingat risikonya terhadap kebakaran.

Sejak Maret 2025, pemerintah Hong Kong memang telah mulai mengurangi penggunaan bambu scaffolding dalam proyek publik dan renovasi karena alasan keamanan. Namun di kompleks ini scaffolding bambu ternyata masih dipakai sebuah langkah kontroversial yang sekarang menimbulkan kemarahan publik.

Publik dan media lokal mulai membandingkan tragedi ini dengan bencana kebakaran masa lalu misalnya dengan Grenfell Tower fire di London (2017), menyoroti bagaimana penggunaan material berbahaya dan perencanaan buruk dalam hunian padat bisa berakibat fatal.

Upaya Penyelamatan & Evakuasi Tapi Banyak yang Terlambat

Petugas pemadam kebakaran dikerahkan dalam jumlah besar ratusan pemadam, puluhan kendaraan pemadam, serta ambulans untuk memadamkan api dan mengevakuasi penghuni. Namun kendala besar muncul: intensitas api, asap pekat, panas ekstrem, dan runtuhan dari scaffolding membuat penyelamatan sangat sulit. 

Empat dari delapan gedung berhasil dinyatakan terkendali pada Kamis malam, tapi pencarian korban dan penyisiran sisa asap serta reruntuhan terus dilakukan. Rumah‑sakit dan shelter darurat menampung ratusan pengungsi, banyak di antaranya trauma dan bingung mencari anggota keluarga.

Sementara itu, korban dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercintanya dibuat lelah menunggu kabar banyak yang harus menunggu konsolidasi data, identifikasi, dan verifikasi. Beberapa dari mereka tidak sempat menyelamatkan anggota keluarga sebelum korsleting mulai. Sadness, kebingungan, dan belasungkawa mendominasi suasana di sekitar lokasi dan shelter.

Tuntutan Keadilan dan Evaluasi Ulang Standar

Pemerintah Hong Kong, bersama aparat keamanan dan pemadam kebakaran, telah meluncurkan investigasi resmi terhadap penyebab kebakaran. Penangkapan tiga petinggi kontraktor menjadi langkah awal penegakan hukum dalam kasus ini.

Lebih jauh, peristiwa ini memicu kritik keras dari masyarakat terutama terhadap kebijakan penggunaan scaffolding bambu dan material renovasi yang berisiko. Banyak warga menuntut evaluasi menyeluruh standar bangunan dan renovasi, serta transparansi dalam proyek hunian massal.

Pemerintah juga dikabarkan mempertimbangkan untuk mempercepat penggantian scaffolding bambu dengan struktur yang lebih amanlogam atau bahan tahan apikhususnya pada proyek hunian vertikal dengan banyak unit.

Sementara itu, di antara puing-puing dan duka, muncul solidaritas: komunitas lokal dan sukarelawan membantu para pengungsi, menyiapkan shelter, makanan, dan dukungan psikologis bagi keluarga korban. Namun, rasa kehilangan tetap mendalam hilangnya nyawa, hilangnya harapan, hilangnya masa depan bagi banyak keluarga.

Back To Top