Kejar Target Tahun Baru, Pembangunan Huntara Aceh Tamiang Terus Dikebut

Kejar Target Tahun Baru, Pembangunan Huntara Aceh Tamiang Terus Dikebut

LACI BERITA – Harapan baru mulai tumbuh di tengah sisa-sisa lumpur dan puing bangunan yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Memasuki penghujung tahun 2025, pemerintah melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya dan Badan Danantara terus memacu pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November lalu.

Berdasarkan data terbaru per 30 Desember 2025, proyek kemanusiaan ini sedang berada dalam fase krusial dengan pengerjaan yang berlangsung 24 jam non-stop, termasuk mengabaikan libur akhir tahun demi memastikan para pengungsi dapat segera pindah dari tenda darurat ke hunian yang lebih layak.

Progres Signifikan: Mengejar Tenggat Tahun Baru

Pemerintah menargetkan peresmian gelombang pertama Huntara ini dilakukan langsung oleh Presiden RI pada 1 Januari 2026. Fokus utama saat ini terletak di kawasan Kompleks DPRK dan Kantor Bupati Aceh Tamiang, serta beberapa lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang telah dibebaskan.

Direktur Utama Nindya Karya, Firmansyah, menyatakan bahwa pihaknya bersama konsorsium BUMN Karya lainnya termasuk Hutama Karya sebagai lead proyek tengah mengerjakan ratusan unit dengan sistem modular.

“Kami merancang huntara ini agar bisa segera dihuni. Target awal sebanyak 204 unit sudah siap diresmikan pada 1 Januari 2026. Konstruksi menggunakan sistem pondasi panggung dan rangka baja ringan untuk mengantisipasi tanah yang masih labil dan berlumpur,” ujar Firmansyah dalam keterangannya di Aceh Tamiang (30/12).

Data dan Skala Pembangunan

Bencana banjir di Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu yang terdahsyat, di mana Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, melaporkan setidaknya 4.839 rumah warga hilang tersapu arus dan puluhan ribu lainnya rusak berat. Untuk merespons skala kerusakan tersebut, skema pembangunan dibagi menjadi beberapa tahap:

  1. Tahap Awal: Pembangunan 600 unit Huntara di Aceh Tamiang yang dikerjakan oleh 7 BUMN Karya.
  2. Lahan: Pemkab Aceh Tamiang telah menyiapkan 14 titik lahan HGU milik perkebunan dan 4 hektare lahan Pemda di Desa Bundar untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di masa depan.
  3. Fasilitas: Setiap blok Huntara tidak hanya berupa kamar hunian seluas 12–30 meter persegi, tetapi juga dilengkapi dapur umum, sarana sanitasi (MCK), mushola, klinik, hingga area bermain anak untuk pemulihan trauma (trauma healing).

Teknologi Modular dan Tantangan di Lapangan

Pembangunan Huntara kali ini menggunakan teknologi Modular Steel, yang memungkinkan bangunan didirikan dalam hitungan hari namun tetap memiliki ketahanan terhadap gempa dan cuaca ekstrem. Dinding menggunakan papan semen, lantai multiplek, dan atap zincalume.

Kendala utama yang dihadapi tim di lapangan adalah kondisi geografis. Banyak lokasi yang masih terendam lumpur sedimen setinggi 30–50 cm. Hal ini memaksa tim menurunkan alat berat lebih banyak untuk melakukan pematangan lahan dan pembersihan akses jalan sebelum material bangunan bisa masuk. Meski cuaca di akhir Desember sering turun hujan lebat, para pekerja tetap berjaga di lokasi.

“Tidak penting libur tahun baru, yang penting saudara-saudara kita di Tamiang tidak tidur di tenda lagi,” tegas Alharis, salah satu pekerja lokal yang terlibat dalam proyek tersebut.

Sinergi Lintas Sektor

Proyek percepatan ini juga didukung oleh PT PLN (Persero) untuk penyediaan jaringan listrik dan Telkomsel untuk penguatan sinyal komunikasi di area relokasi. Badan Danantara bersama Kementerian PU juga secara paralel mulai merencanakan pembangunan 15.000 unit Hunian Tetap (Huntap) yang akan dimulai segera setelah fase Huntara stabil.

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, menambahkan bahwa sinergi antara eksekutif dan legislatif telah mempercepat proses administrasi pembebasan lahan sehingga pembangunan tidak terhambat birokrasi.

Dengan sisa waktu yang sangat sempit, optimisme tetap tinggi. Masyarakat yang saat ini masih bertahan di posko pengungsian berharap janji pemerintah untuk memindahkan mereka pada awal Januari benar-benar terealisasi. Kehadiran Huntara ini diharapkan menjadi titik balik bagi kebangkitan ekonomi dan sosial warga Aceh Tamiang yang sempat lumpuh total.

Back To Top