LACI BERITA – Meski gencatan senjata rapuh telah diadakan, militer Israel melancarkan serangan udara terbaru ke Jalur Gaza, menewaskan 22 orang, menurut laporan dari Badan Pertahanan Sipil Gaza. Serangan ini menimbulkan kecemasan bahwa perdamaian yang rapuh dapat segera runtuh kembali.
Kronologi Serangan
Serangan dimulai pada Rabu, menurut militer Israel, setelah sejumlah militan Hamas menembaki posisi pasukan Israel di bagian selatan Gaza. Dalam pernyataannya, juru bicara Angkatan Bersenjata Israel menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap “pelanggaran gencatan senjata” dan menargetkan “sasaran teroris Hamas.”
Sementara itu, Badan Pertahanan Sipil Gaza mencatat bahwa dari 22 korban jiwa, 12 tewas di Kota Gaza (utara) dan 10 lainnya di wilayah Khan Younis (selatan).
Reaksi dari Gaza
Pihak berwenang di Gaza mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata. Mereka menyatakan bahwa warga sipil kembali menjadi korban dalam serangan yang diklaim Israel sebagai operasi militan.
Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah kontrol Hamas, menyebut bahwa serangan telah merenggut nyawa warga sipil yang seharusnya dilindungi di masa damai.
Klaim Israel dan Justifikasi Militer
Militer Israel menegaskan bahwa serangan ini menarget sasaran Hamas sebagai tanggapan atas tembakan yang menyerang pasukan mereka. Menurut mereka, operasi ini sejalan dengan kewajiban mereka untuk mempertahankan keamanan pasukannya dan warga Israel.
Namun, pihak militer juga menyatakan bahwa tidak ada korban dari pasukan Israel dalam insiden tersebut.
Kondisi Gencatan Senjata
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 telah menjadi fondasi rapuh perdamaian sementara, meskipun sejumlah insiden kekerasan terus terjadi di kedua pihak. Menurut laporan dari CNN Indonesia, sejak gencatan senjata itu berlaku, sudah ada lebih dari 266 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Serangan ini menambah beban krisis kemanusiaan yang sudah parah di Gaza. Infrastruktur utama seperti rumah, fasilitas kesehatan, dan pemukiman pengungsi sering menjadi sasaran, memperparah penderitaan penduduk sipil.
Di beberapa laporan, serangan udara terbaru juga mengenai area yang sangat padat penduduk, termasuk kamp pengungsi dan wilayah sipil yang sulit diakses.
Tanggapan Internasional dan Politikal
Insiden ini meningkatkan tekanan internasional terhadap Israel untuk menahan diri dan menegakkan komitmen gencatan senjata. Beberapa kelompok internasional dan negara mediator menyerukan agar kedua belah pihak menjaga perdamaian dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, Israel tetap berargumentasi bahwa serangannya adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk melawan Hamas dan menjaga keamanan nasional. Namun, reaksi keras dari Gaza mencerminkan betapa rapuhnya stabilitas di wilayah itu, bahkan di tengah kondisi damai formal.
Potensi Dampak Masa Depan
Dengan adanya insiden seperti ini tewasnya 22 orang di tengah gencatan banyak pihak khawatir bahwa gencatan senjata yang saat ini berlaku bisa segera rusak. Jika serangan berlanjut, potensi eskalasi kembali semakin besar, dan krisis kemanusiaan di Gaza bisa kembali melambung tinggi.
Warga sipil yang sudah lama menderita dalam konflik juga menghadapi trauma tambahan, terutama mereka yang telah kehilangan rumah dan anggota keluarga. Selain itu, guncangan seperti ini dapat menunda proses pemulangan sandera atau pertukaran tahanan, yang menjadi bagian kunci dari perundingan damai.
