LACI BERITA – Hong Kong tengah diselimuti suasana duka yang mendalam setelah terjadinya tragedi kebakaran dahsyat di kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po, yang kini telah dikonfirmasi merenggut sedikitnya 151 nyawa. Insiden yang terjadi pada 26 November 2025 ini, yang merupakan kebakaran terburuk di Hong Kong sejak tahun 1948, telah memicu gelombang solidaritas dan juga kemarahan publik terhadap dugaan kelalaian keselamatan.
Sejak hari kejadian, yang dengan cepat meningkat menjadi kebakaran alarm level 5, tujuh dari delapan menara bertingkat 31 di kompleks tersebut hangus terbakar. Upaya evakuasi dan pencarian yang intens telah berakhir, namun tim penyidik terus bekerja di lokasi untuk mengidentifikasi puluhan korban yang masih belum teridentifikasi dan untuk mengumpulkan bukti di reruntuhan bangunan yang suhunya masih tinggi.
Tumpahan Bunga dan Doa di Monumen Dadakan
Di sekitar lokasi kompleks Wang Fuk Court, sebuah monumen peringatan dadakan telah tumbuh semakin besar, dipenuhi dengan lautan bunga, surat-surat tulisan tangan, dan lilin. Warga dari seluruh penjuru Hong Kong, termasuk para penyintas dan keluarga korban, datang secara bergantian untuk memberikan penghormatan terakhir.
Pemerintah Hong Kong telah menetapkan tiga hari masa berkabung nasional, dengan bendera nasional dan bendera Hong Kong dikibarkan setengah tiang. Namun, dukungan masyarakat melampaui formalitas resmi. Kelompok-kelompok komunitas, organisasi nirlaba, dan warga biasa telah bergerak cepat, membentuk jaringan sukarela untuk menyalurkan bantuan kepada para penyintas yang kehilangan tempat tinggal. Donasi untuk dana bantuan yang dibentuk oleh pemerintah dilaporkan telah mencapai HK$900 juta (sekitar US$115 juta), menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan warga.
Fokus pada Kelalaian Keselamatan
Sementara Hong Kong berduka, perhatian publik semakin terfokus pada penyebab cepatnya penyebaran api dan dugaan pelanggaran keselamatan yang mengerikan. Kompleks perumahan yang menampung hampir 5.000 penduduk ini sedang menjalani renovasi besar-besaran dan diselimuti perancah bambu serta jaring pengaman.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kebakaran yang dimulai di jaring perancah tingkat bawah salah satu bangunan menyebar dengan cepat ke dalam gedung. Ini diperburuk oleh papan busa polistiren yang sangat mudah terbakar, yang digunakan untuk menutupi jendela di setiap lantai selama renovasi, dan diduga bertindak sebagai akselerator api. Kepala Sekretaris Hong Kong, Eric Chan, mengungkapkan bahwa pengujian selanjutnya menemukan bahwa beberapa jaring pengaman yang digunakan tidak memenuhi standar tahan api, menunjukkan adanya upaya kontraktor untuk “menghemat biaya dengan mengorbankan nyawa manusia.”
Pihak berwenang telah melakukan penangkapan, termasuk direktur dan konsultan teknik dari perusahaan konstruksi, atas dugaan kelalaian berat yang menyebabkan pembunuhan. Terungkap pula bahwa Departemen Tenaga Kerja telah mengeluarkan beberapa peringatan tertulis kepada kontraktor selama setahun terakhir terkait persyaratan keselamatan kebakaran yang tidak dipenuhi, namun peringatan tersebut diduga tidak ditindaklanjuti.
Tragedi Wang Fuk Court telah menjadi ‘panggilan keras’ bagi Hong Kong untuk segera meninjau dan memperketat regulasi keselamatan kebakaran, terutama dalam sektor konstruksi. Di tengah kesedihan yang tak terhindarkan, kota ini kini menghadapi pertanyaan sulit mengenai akuntabilitas dan bagaimana memastikan bencana serupa tidak akan pernah terjadi lagi.
