LACI BERITA — Ketika modal pertama hanyalah satu unit, siapa sangka kisah itu berkembang jadi omzet puluhan juta per bulan.” Inilah kisah inspiratif mahasiswa Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang membuktikan bahwa dunia akademik tidak menghambat kreativitas bisnis. Hilal Anam Mustofa, mahasiswa semester 7 Program Studi Sistem Informasi, memulai usahanya dari sesuatu yang sederhana: menjual smartphone bekas. Dari satu unit awal, kini usahanya Grafix Store menghasilkan omzet antara Rp150 juta hingga Rp175 juta setiap bulan, meskipun ia tetap aktif kuliah dan menjalankan tugas akademik.
Kesuksesan ini bukan sekadar angka. Hilal menjalankan usahanya dengan metodologi yang terukur dan disiplin terhadap waktu. Ia menggunakan berbagai marketplace digital seperti Tokopedia, Shopee, hingga Facebook Marketplace sebagai kanal penjualan. Strateginya bukan hanya soal harga, tetapi juga manajemen stok, kualitas produk, dan layanan pelanggan yang konsisten. Ini membuktikan bahwa di era digital seperti sekarang, mahasiswa bisa menjadi pelaku bisnis yang profesional bahkan sebelum wisuda tiba.
Strategi Digital dan Manajemen: Kunci Keberhasilan Bisnis Mahasiswa
Loncatan Hilal dari satu unit ke ratusan unit terjual bukan suatu kebetulan. Ia menerapkan prinsip quality control yang ketat serta membangun reputasi baik di kalangan pelanggan. Dalam praktiknya, setiap smartphone yang dijual diverifikasi kondisi fisik dan fungsi, dipasarkan dengan deskripsi jujur, serta dibarengi dengan layanan purna jual yang responsif. Strategi seperti ini membantu Grafix Store tumbuh cepat sekaligus membangun kepercayaan konsumen yang berkelanjutan.
Tak kalah penting adalah peran pembelajaran kewirausahaan yang diterima di kampus. Di Universitas Nusa Mandiri, mahasiswa seperti Hilal mendapatkan pendampingan melalui Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC), yang membantu mereka menyusun model bisnis yang matang, memahami laporan keuangan, hingga membangun strategi pemasaran digital yang efektif. Dengan perpaduan ilmu akademik dan mentoring bisnis, mahasiswa didorong tidak hanya berinovasi, tetapi juga mengeksekusi gagasan mereka ke pasar nyata.
Peran Kampus: Dari Teori ke Praktik Pasar Nyata
Transformasi mahasiswa menjadi pelaku usaha nyata tentu tidak lepas dari peran aktif institusi pendidikan. UNM mengembangkan ekosistem yang mendukung lahirnya startup startup dan usaha produktif mahasiswa dengan mempertemukan mereka dengan mentor, pelatihan bisnis, hingga akses pendanaan. Dengan demikian, kampus bukan lagi ruang belajar teori semata, melainkan juga laboratorium bisnis yang real.
Dalam konteks ini, Nusa Mandiri Startup Center (NSC) memainkan peran penting. NSC menyediakan program inkubasi, mentoring, dan pelatihan pitching kepada investor dan pasar sehingga mahasiswa dapat menguji ide mereka secara langsung. Pendekatan ini membuat mahasiswa tidak hanya berpikir sebagai job seeker (pencari kerja), tetapi juga sebagai job creator (pencipta lapangan kerja) yang mampu berkontribusi pada ekonomi digital.
Dampak Keberhasilan: Inspirasi untuk Generasi Entrepreneur Muda
Prestasi Hilal dan berbagai mahasiswa lainnya merupakan bagian dari tren yang lebih luas di kalangan pelajar perguruan tinggi. Tren startup mahasiswa bukan sekadar fenomena sesaat, tetapi telah menjadi bagian dari kultur baru dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Mahasiswa sekarang semakin berani menciptakan solusi kreatif di berbagai bidang seperti teknologi, layanan digital, pendidikan, hingga produk fisik yang memenuhi permintaan pasar.
Keberhasilan seperti omzet Rp175 juta per bulan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memberikan inspirasi bagi mahasiswa lain di kampus maupun luar kampus. Ini menegaskan bahwa dengan akses teknologi, dukungan mentor, serta mental entrepreneurial, mahasiswa bisa muncul sebagai penggerak ekonomi dengan pendekatan yang modern. Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis berkomitmen memperluas peluang ini agar lebih banyak mahasiswa kelak mampu meraih keberhasilan yang sama atau bahkan lebih besar.
