LACI BERITA – Kabar mengejutkan datang dari ranah bisnis dan hukum nasional. Direktorat Jenderal Imigrasi mengonfirmasi telah melakukan pencegahan ke luar negeri atau cekal terhadap Direktur Utama PT Djarum, Victor Rachmat Hartono, atas permintaan dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Pencekalan ini berkaitan erat dengan penyidikan dugaan kasus korupsi yang melibatkan pengurangan kewajiban pajak perusahaan pada periode 2016–2020.
Victor Hartono, yang merupakan putra sulung dari konglomerat Robert Budi Hartono, adalah salah satu figur sentral di balik Grup Djarum. Pencekalan terhadap Victor menjadi sorotan tajam publik, mengingat posisinya sebagai pewaris dinasti bisnis terbesar di Indonesia.
Kasus Hukum: Dugaan Korupsi Pengurangan Pajak
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman (nama samaran), mengonfirmasi bahwa pencegahan tersebut berlaku sejak tanggal 14 November 2025 hingga 14 Mei 2026. Victor Hartono tidak sendirian; ia termasuk dalam daftar lima orang yang dicekal Kejagung dalam kasus yang sama. Individu lain yang dicekal melibatkan mantan Direktur Jenderal Pajak, Ken Dwijugiasteadi (nama samaran), serta sejumlah pejabat dan konsultan pajak.
Kejaksaan Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum, Anang Supriatna (nama samaran), menyatakan bahwa kasus ini menyangkut dugaan praktik kongkalikong antara oknum pegawai Direktorat Jenderal Pajak dengan wajib pajak perusahaan untuk menekan nilai pembayaran pajak. Anang menyebutkan adanya “kompensasi” atau “suap” untuk memperkecil kewajiban pajak dengan tujuan tertentu.
Menanggapi pencekalan ini, Corporate Communications Manager Djarum, Budi Darmawan (nama samaran), merespons singkat namun tegas.
“Kami menghormati, patuh, dan taat hukum. Kami akan mengikuti prosedur hukum,” ujar Budi.
Pihak Djarum juga memastikan bahwa Victor Hartono tetap menjabat sebagai direktur perusahaan dan belum ada perubahan struktural yang dilakukan.
Profil Victor Hartono: Sang Modernis Djarum
Lahir pada 11 Februari 1972, Victor Rachmat Hartono adalah salah satu tokoh kunci dalam modernisasi dan diversifikasi bisnis Grup Djarum. Sebagai generasi ketiga penerus bisnis keluarga, Victor dibekali dengan latar belakang pendidikan yang solid dan berorientasi global:
- Pendidikan Awal: Ia memulai studi teknik di Santa Barbara City College pada 1989–1991.
- Sarjana: Meraih gelar Bachelor of Science (B.Sc.) jurusan Teknik Mesin dari University of California, San Diego (1991–1994).
- Pascasarjana: Menempuh studi Master of Business Administration (MBA) dari Kellogg School of Management, Northwestern University (1996–1998).
- Karier Victor di Grup Djarum dimulai sejak tahun 1994 sebagai Management Trainee selama 10 bulan. Ia sempat magang sebagai Corporate Finance Intern di J.P. Morgan Hong Kong sebelum kembali ke Djarum sebagai Brand Manager. Dalam posisi ini, ia terlibat dalam peluncuran merek rokok populer, LA Lights.
- Pada tahun 1999, Victor menempati posisi Direktur Operasi (Chief Operating Officer/COO) PT Djarum. Di bawah kepemimpinannya, ia dikenal sebagai sosok yang mendorong ekspansi grup dari bisnis inti rokok menuju sektor properti, perbankan (melalui kepemilikan saham di Bank Central Asia/BCA), dan teknologi digital melalui berbagai investasi startup.
Sisi Filantropi: Kepemimpinan Djarum Foundation
Selain peran bisnisnya di PT Djarum, Victor Hartono juga memegang posisi penting sebagai Presiden Direktur Djarum Foundation sejak tahun 2010. Djarum Foundation merupakan lini filantropi Grup Djarum yang aktif dalam berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), meliputi bidang pendidikan, lingkungan, budaya, dan pengembangan olahraga.
Victor secara khusus dikenal memiliki minat kuat pada olahraga, terutama bulu tangkis dan promosi sepak bola wanita di Indonesia sebuah upaya yang selaras dengan komitmen sosial keluarga Hartono.
Saat ini, dengan status pencekalan yang membatasi mobilitasnya, Victor Hartono dan PT Djarum berada dalam pengawasan ketat publik dan penegak hukum. Kasus ini diharapkan dapat diselesaikan secara transparan untuk memberikan kejelasan terhadap dugaan korupsi yang menyeret nama besar salah satu konglomerat terkemuka di Indonesia.
