LACI BERITA – Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator seluler melaporkan gangguan besar pada infrastruktur telekomunikasi di sejumlah provinsi di Sumatra terutama setelah bencana banjir dan longsor.
Menurut data awal, di salah satu provinsi terdampak, yakni Aceh, sekitar 60 % menara BTS milik Telkomsel dilaporkan rusak akibat banjir dan longsor. Sementara itu, di Sumatera Utara (Sumut), dampaknya tercatat lebih kecil: sekitar 12 % BTS mati. Di Sumatera Barat (Sumbar), persentase BTS terdampak sekitar 11,03 %.
Dampak Masif Jaringan Terganggu, Pemulihan Terhambat
Gangguan luas ini menyebabkan layanan telekomunikasi baik telepon, SMS, maupun data seluler terputus di banyak titik. Penyebab utama: pemadaman listrik masif, akses jalan rusak atau terputus, serta sulitnya mengirim genset dan bahan bakar ke lokasi BTS yang terdampak.
Operator melaporkan bahwa beberapa BTS yang gagal dialiri daya listrik otomatis mengalami padam total membuat pengguna di daerah terdampak kesulitan menghubungi keluarga, layanan darurat, atau akses informasi.
Upaya pemulihan telah dilakukan sejak hari bencana terjadi teknisi dikerahkan, genset dan baterai cadangan disiapkan, dan koordinasi dengan PLN dilakukan. Namun sejumlah tantangan tetap ada: akses jalan ke lokasi BTS terendam atau tertutup, banyak jembatan atau jalur transportasi terputus, serta risiko cuaca ekstrim masih mengancam.
Reaksi Telkomsel dan Komitmen Pemulihan
Telkomsel menyatakan bahwa seluruh sumber dayanya dikerahkan untuk mempercepat pemulihan. Tim teknis sudah diterjunkan ke lokasi terdampak di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Selain memperbaiki infrastruktur BTS, Telkomsel juga menyalurkan bantuan kemanusiaan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membantu meringankan beban warga terdampak banjir.
Pihak regulator dari Kementerian Komunikasi dan Digital memantau secara intens, meminta operator segera memperbaiki semua site BTS terdampak dan proaktif memberi tahu publik soal titik-titik gangguan layanan.
Implikasi bagi Warga dan Komunitas
Kondisi ini membuat banyak warga di daerah terdampak kesulitan menjangkau layanan komunikasi dasar terutama di masa darurat. Padahal, jaringan seluler dan internet menjadi tulang punggung informasi, koordinasi penyelamatan, dan layanan darurat ketika terjadi bencana.
Pemadaman layanan juga memperlambat proses evakuasi, distribusi bantuan, dan pelaporan kondisi kritis; terutama di daerah terpencil yang sangat mengandalkan sinyal seluler.
Selain itu, ketidakpastian pemulihan karena jalur transport dan listrik yang belum stabil membuat banyak warga khawatir jaringan sulit pulih dalam waktu dekat, yang bisa memperburuk situasi kemanusiaan.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Beberapa hambatan besar menghadang upaya pemulihan:
- Akses fisik ke lokasi BTS yang sulit, karena banjir atau longsor menutupi jalan dan jembatan.
- Pasokan listrik dari PLN banyak yang terputus, sehingga perlu genset/backup daya tapi distribusinya lambat.
- Cuaca buruk masih bisa memicu banjir atau longsor susulan, yang berpotensi merusak lagi infrastruktur yang sudah diperbaiki.
Meski begitu, Telkomsel dan pihak terkait berkomitmen terus mempercepat restorasi layanan dengan prioritas pada area kritis dan jalur komunikasi vital. Apabila akses listrik pulih dan jalan terbuka, layanan diharapkan bisa kembali secara bertahap dalam hari–minggu ke depan.
