Amerika Serikat Perketat Aturan, Pemohon Visa dengan Obesitas dan Diabetes Berisiko Ditolak

Amerika Serikat Perketat Aturan, Pemohon Visa dengan Obesitas dan Diabetes Berisiko Ditolak

LACI BERITA – Amerika Serikat memperketat kebijakan visa dengan menerapkan pedoman baru yang memungkinkan petugas imigrasi menolak aplikasi visa dari pemohon yang memiliki kondisi kesehatan kronis seperti obesitas dan diabetes. Langkah ini dilakukan berdasarkan surat edaran dari Departemen Luar Negeri AS yang dikirimkan kepada kedutaan dan konsulat AS di seluruh dunia.

Kebijakan “Public Charge” Diperluas

Pedoman baru tersebut dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam sebuah kabel internal tertanggal 6 November 2025. Isinya memperluas definisi “public charge” — yakni konsep imigrasi yang memungkinkan penolakan visa jika pemohon dinilai kemungkinan besar akan bergantung pada tunjangan publik.

Dalam edaran itu, petugas konsuler diinstruksikan untuk mempertimbangkan kondisi medis kronis, termasuk obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, gangguan neuro-metabolik, hingga masalah kesehatan mental sebagai faktor penilaian. Obesitas dianggap sebagai pemicu potensi komplikasi seperti sleep apnea (gangguan tidur), hipertensi, dan depresi klinis yang dapat meningkatkan biaya perawatan jangka panjang.

Alasan dan Perhitungan Biaya

Menurut pedoman tersebut, para pejabat visa diminta untuk menilai apakah pemohon mampu menanggung sendiri biaya pengobatan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah AS. Dalam surat edaran disebutkan:

“Apakah pemohon memiliki sumber daya keuangan yang memadai untuk menutup biaya perawatan sepanjang sisa hidupnya tanpa memohon bantuan tunai publik atau institusional?”

Dengan demikian, bukan hanya kondisi kesehatan kronis itu sendiri, tetapi juga faktor keuangan pemohon akan menjadi bahan pertimbangan utama. Negara dinilai harus melindungi sistem kesehatan dan anggaran publik dari beban jangka panjang, khususnya dari perawatan penyakit kronis yang bisa sangat mahal.

Kritik dan Kekhawatiran

Kebijakan ini menuai kritik dari pegiat imigrasi dan ahli hukum. Mereka menilai pedoman tersebut memberikan keleluasaan terlalu besar kepada petugas visa, di mana keputusan bisa diambil berdasarkan prediksi biaya kesehatan masa depan pemohon — sementara petugas tersebut bukan tenaga medis. Seorang advokat hukum imigrasi menyatakan bahwa menilai “apa yang mungkin terjadi di masa depan” sangat berbahaya dan bisa menciptakan bias.

Lebih lanjut, pihak kritikus mengingatkan bahwa pedoman ini tampak bertentangan dengan Foreign Affairs Manual milik Departemen Luar Negeri AS, yang sebelumnya menyatakan bahwa penolakan visa tidak boleh hanya berdasarkan skenario hipotesis.

Siapa yang Paling Terpengaruh?

Kebijakan baru ini kemungkinan besar akan paling berdampak pada pemohon visa imigran, terutama mereka yang mengajukan green card atau visa tinggal permanen. Meskipun begitu, pedoman tersebut secara umum berlaku untuk berbagai jenis visa.

Petugas juga diminta untuk mengevaluasi kesehatan anggota keluarga yang ikut serta, seperti anak-anak atau orang tua. Bila ada anggota keluarga dengan kondisi medis serius yang bisa memengaruhi ketahanan finansial pemohon, hal ini bisa menjadi faktor penolakan.

Sebaliknya, sebagian pemohon visa jangka pendek atau visa non-imigran mungkin tidak akan terkena dampak sekuat pemohon visa imigran. Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena diskresi petugas sangat luas.

Back To Top