Baut Jembatan Bailey Aceh Hilang, Mualem Meradang: Kurang Ajar!

Baut Jembatan Bailey Aceh Hilang, Mualem Meradang Kurang Ajar!

LACI BERITA – Di tengah perjuangan rakyat Aceh bangkit dari hantaman bencana banjir besar yang melanda belasan kabupaten/kota, sebuah kabar mengejutkan mencuat ke permukaan. Jembatan Bailey yang baru saja dibangun di kawasan Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, dilaporkan kehilangan baut-baut penyangganya. Aksi yang diduga sebagai sabotase ini memicu kemarahan besar Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem.

Insiden ini bukan sekadar pencurian besi tua biasa, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik di tengah masa darurat. Dengan nada tinggi dan raut wajah penuh kekecewaan, Mualem mengutuk keras pelaku di balik aksi tidak terpuji tersebut.

“Kurang Ajar Itu Namanya!”

Kemarahan Mualem meledak usai memimpin Rapat Koordinasi bersama Satgas Pemulihan Bencana di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025). Ia tidak habis pikir ada oknum yang tega mencuri atau melepas baut jembatan di saat infrastruktur tersebut menjadi jalur vital untuk menyalurkan bantuan logistik dan sembako bagi para korban banjir.

“Orang tidak bertanggung jawab, masa keadaan seperti ini cari kesempatan jual besi buruk. Kan kurang ajar itu namanya!” tegas Mualem di hadapan awak media.

Gubernur Aceh terpilih periode 2025–2030 ini menekankan bahwa jembatan tersebut dibangun oleh TNI untuk kepentingan masyarakat banyak yang sedang menderita akibat bencana. Jika jembatan itu ambruk karena bautnya dipreteli, maka dampaknya akan sangat fatal, baik dari sisi keselamatan jiwa maupun terhambatnya distribusi pangan.

“Kita imbau supaya sadarlah. Kalau dibangun infrastruktur itu untuk kepentingan masyarakat kita juga. Kalau jembatan ambruk, bagaimana pasokan sembako sampai ke warga?” lanjutnya dengan nada berang.

Kecurigaan Sabotase dan Respon KSAD

Kabar hilangnya baut jembatan ini pertama kali diungkap oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (29/12/2025), Jenderal Maruli menunjukkan bukti-bukti foto di mana baut-baut jembatan di Teupin Mane telah dicabut secara sengaja.

Maruli menyebut aksi ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan menjurus pada upaya sabotase terhadap pemerintah dengan mengorbankan masyarakat kecil.

“Kami juga tidak menyangka ada orang sebiadab ini ya. Kami pikir masyarakat sedang bencana, tapi baut-bautnya dibongkar,” ujar KSAD dengan nada geram.

Ia bahkan mengaku tidak bisa tidur memikirkan bagaimana ada pihak yang tega merusak fasilitas publik di lokasi bencana. Maruli menegaskan bahwa TNI tidak akan tinggal diam dan akan menelusuri siapa dalang di balik perusakan ini, meski saat ini fokus utama tetap pada pelayanan masyarakat terdampak banjir.

Dampak dan Keamanan di Lapangan

Jembatan Bailey di Teupin Mane merupakan infrastruktur darurat yang sangat strategis. Sejak selesai dibangun pada 18 Desember 2025, jembatan ini menjadi urat nadi penghubung yang sempat terputus total akibat banjir dan longsor yang meluas di Aceh sejak akhir November.

Banyak pihak menyayangkan insiden ini, mengingat jembatan tersebut berada di jalur yang seharusnya terpantau. Beberapa warga dan aktivis di Aceh pun mempertanyakan bagaimana baut-baut tersebut bisa hilang di area yang seharusnya mendapatkan pengamanan ketat dari aparat selama masa tanggap darurat.

Informasi terkini menyebutkan bahwa pihak TNI AD telah bergerak cepat untuk memasang kembali baut-baut yang hilang guna memastikan jembatan dapat dilalui dengan aman. Penjagaan di sekitar lokasi infrastruktur vital kini diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Tradisi Meugang dan Urgensi Logistik

Mualem juga mengaitkan pentingnya keamanan jembatan ini dengan kebutuhan masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan. Di Aceh, terdapat tradisi Meugang atau menyembelih sapi yang membutuhkan mobilitas tinggi dalam distribusi daging dan logistik.

“Di Aceh kalau Meugang tidak makan daging itu tidak sah. Daging di sini paling mahal, bisa sampai Rp 300 ribu per kilo. Kalau jembatan rusak, pasokan terganggu, harga makin gila, rakyat makin susah,” kata Mualem.

Penegakan Hukum

Pemerintah Aceh telah berkoordinasi dengan Polda Aceh dan Pangdam Iskandar Muda untuk mengusut tuntas motif di balik hilangnya baut jembatan tersebut. Apakah ini murni pencurian karena motif ekonomi (besi tua) atau ada motif politis tertentu untuk mendiskreditkan upaya pemulihan pascabencana yang sedang dilakukan pemerintah pusat dan daerah.

Hingga saat ini, tim gabungan masih melakukan penyelidikan di lapangan. Mualem meminta masyarakat untuk ikut serta menjaga fasilitas umum yang telah dibangun.

“Ini milik kita bersama, tolong dijaga, bukan dirusak,” tutupnya.

Back To Top