Tips Prompting Like a Pro ala Eddy Sukmana, Bikin Konten Lebih Ciamik

Tips Prompting Like a Pro ala Eddy Sukmana, Bikin Konten Lebih Ciamik

LACI BERITA – Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat konten yang menarik dan profesional menjadi salah satu kunci sukses kreator. Salah satu nama yang semakin dikenal di dunia content creation Indonesia adalah Eddy Sukmana, seorang kreator dan praktisi teknologi Artificial Intelligence (AI). Baru-baru ini, Eddy membagikan tips prompting yang efektif untuk memaksimalkan penggunaan AI dalam pembuatan konten melalui acara edukatif bertema “Kreator Naik Kelas Bikin Konten Berkualitas: AI Ready.”

Dalam sesi ini, Eddy menegaskan bahwa kemajuan AI telah menghapus banyak hambatan teknis yang dulu menjadi alasan bagi orang untuk tidak membuat konten.

“Dulu banyak alasan untuk tidak memulai konten, mulai dari tidak punya kamera bagus hingga tidak punya mic yang memadai. Sekarang, justru ada banyak cara untuk mulai membuat konten berkualitas dengan bantuan teknologi,” ujarnya. Menurut Eddy, AI dapat menjadi sahabat kreator, asalkan digunakan dengan strategi yang tepat.

Pentingnya Prompting yang Tepat

Eddy menekankan bahwa kemampuan AI untuk menghasilkan konten yang relevan dan menarik sangat bergantung pada kualitas prompt atau perintah yang diberikan. Tanpa panduan yang jelas, AI cenderung menghasilkan konten generik yang kurang sesuai dengan kebutuhan kreator. Hal ini berlaku tidak hanya untuk teks, tetapi juga gambar dan video. Dengan prompting yang terstruktur, kreator bisa langsung mendapatkan konten yang siap pakai.

“AI tidak bisa menebak apa yang Anda inginkan tanpa instruksi yang jelas. Itulah mengapa prompting yang baik menjadi kunci agar hasilnya lebih profesional dan sesuai tujuan,” jelas Eddy.

Rumus Prompting Ala Eddy Sukmana

Eddy membagikan satu rumus prompting yang ia klaim efektif untuk kreator pemula maupun profesional. Rumus ini terdiri dari lima komponen utama:

  1. Role (Peran)
    Tentukan peran AI dalam pembuatan konten. Misalnya, AI diminta berperan sebagai “ahli marketing digital” atau “scriptwriter TikTok.” Pendekatan ini membantu AI menyesuaikan hasil output sesuai konteks dan tujuan konten.
  2. Context (Konteks)
    Berikan latar belakang atau konteks target audiens. Misalnya, konten untuk UMKM kopi lokal dengan target usia tertentu. Informasi ini memungkinkan AI menyesuaikan gaya bahasa, tone, dan fokus konten agar lebih tepat sasaran.
  3. Format (Bentuk Output)
    Tentukan format hasil yang diinginkan, apakah berupa daftar, tabel, caption media sosial, atau naskah video. Format yang jelas membuat AI menghasilkan konten yang siap digunakan tanpa banyak revisi.
  4. Tone (Nada/Gaya Bahasa)
    Nada atau gaya bahasa sangat penting agar konten sesuai dengan karakter merek atau audiens. Kreator dapat meminta AI untuk menulis dengan gaya formal, santai, humoris, atau edukatif.
  5. Goal (Tujuan Akhir)
    Berikan tujuan spesifik konten, misalnya untuk meningkatkan engagement, edukasi, atau promosi produk. Hal ini membuat AI fokus pada hasil yang ingin dicapai, bukan sekadar menghasilkan teks atau gambar.

Dengan lima komponen ini, Eddy menekankan bahwa kreator bisa memaksimalkan output AI dan menghemat waktu produksi konten.

Prompting untuk Gambar dan Video

Selain teks, Eddy juga membahas prompting untuk konten visual. AI dapat menghasilkan gambar dan video berkualitas tinggi jika kreator memberikan deskripsi visual yang rinci. Misalnya, daripada hanya mengetik “buatkan foto produk lipstik,” kreator bisa menambahkan detail seperti “lipstik matte merah diletakkan di atas kain sutra merah tua dengan pencahayaan lembut dan nuansa sinematik.” Hasilnya akan lebih profesional dan mendekati estetika yang diinginkan.

Untuk video, Eddy menyarankan kreator menggunakan struktur naratif jelas, yakni Hook, Isi, dan Closing (CTA). Struktur ini membantu AI menghasilkan video yang lebih menarik dan mampu menahan perhatian penonton sejak detik pertama.

AI sebagai Mitra Kreatif, Bukan Pengganti

Meskipun sangat mengapresiasi kemudahan AI, Eddy menegaskan bahwa sentuhan manusia tetap tak tergantikan. Kreativitas, intuisi, empati, dan etika adalah nilai yang hanya bisa diberikan oleh manusia. AI, menurutnya, hanyalah alat bantu atau co-pilot. Pilihan akhir tetap ada pada kreator untuk menentukan kualitas dan arah konten.

Eddy menyebutkan bahwa kolaborasi antara manusia dan AI membuka peluang besar untuk menciptakan konten yang lebih kreatif, cepat, dan efektif. Namun, penggunaan AI harus disertai pemahaman etis agar konten tidak menyesatkan, tetap berkualitas, dan relevan dengan audiens.

Back To Top