Duka Sumatera: BNPB Konfirmasi 921 Meninggal, 392 Hilang Akibat Banjir dan Longsor

Duka Sumatera BNPB Konfirmasi 921 Meninggal, 392 Hilang Akibat Banjir dan Longsor

LACI BERITA – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus menunjukkan dampak yang memilukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data korban jiwa yang terdampak di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Angka terbaru yang diumumkan oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, per Minggu (7/12) malam, mengungkapkan bahwa 921 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 392 orang lainnya masih dalam pencarian dan berstatus hilang.

Data suram ini disampaikan oleh Letjen Suharyanto dalam Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri/lembaga terkait di Aceh Besar. Kenaikan signifikan pada jumlah korban meninggal dan hilang ini mencerminkan betapa parahnya dampak bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah tersebut sejak beberapa pekan terakhir.

“Kami laporkan untuk korban jiwa per hari ini [Minggu, 7/12] 921 orang. Hilang 392 orang,” ujar Kepala BNPB, sambil menambahkan bahwa data yang disajikan bersifat dinamis dan akan terus dikoreksi seiring berjalannya proses pencarian, evakuasi, dan identifikasi di lapangan.

Selain korban jiwa, bencana ini juga memaksa hampir satu juta warga mengungsi. Data BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini mencapai 975.079 jiwa yang tersebar di berbagai posko darurat dan penampungan sementara. Sementara itu, 5.000 jiwa dilaporkan mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.

Sebaran Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Tiga provinsi menjadi wilayah dengan dampak terparah, dengan sebaran korban meninggal dunia sebagai berikut:

  • Aceh: 366 jiwa meninggal dunia, 97 orang hilang, dan 914.202 orang mengungsi.
  • Sumatera Utara: 329 jiwa meninggal dunia, dan 82 orang hilang.
  • Sumatera Barat: 226 jiwa meninggal dunia, dan 213 orang hilang.

Secara rinci di tingkat kabupaten/kota, daerah yang mencatat jumlah korban meninggal terbanyak antara lain Kabupaten Agam (Sumbar), Aceh Tamiang (Aceh), dan Bener Meriah (Aceh).

Tak hanya nyawa, bencana ini juga meluluhlantakkan infrastruktur dan permukiman warga. Laporan BNPB menunjukkan kerusakan material yang masif:

  • Rumah Rusak: Mencapai 147.300 unit.
  • Fasilitas Pendidikan: 701 unit.
  • Fasilitas Umum: 1.300 unit.
  • Rumah Ibadah: 420 unit.
  • Fasilitas Kesehatan: 199 unit.
  • Gedung/Kantor: 234 unit.
  • Jembatan: 405 unit.

Kerusakan ini menimbulkan tantangan besar dalam upaya pemulihan, terutama dalam memastikan akses logistik dan pergerakan masyarakat kembali pulih. Presiden Prabowo Subianto, dalam ratas tersebut, telah menginstruksikan pengerahan seluruh kemampuan pemerintah, termasuk TNI dan Polri, untuk mempercepat perbaikan jembatan dan infrastruktur vital lainnya. Ditargetkan dalam satu hingga dua minggu, akses utama dapat berangsur normal.

Perhatian Khusus pada Kerusakan Lingkungan

Fenomena kayu gelondongan yang ikut terbawa arus banjir di sejumlah lokasi, terutama di Aceh dan Sumatera Utara, mengindikasikan adanya dugaan kerusakan lingkungan parah di wilayah hulu sungai. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah diperintahkan untuk meninjau ulang izin-izin perusahaan di tiga provinsi terdampak dan membentuk satuan tugas gabungan untuk mengusut dugaan pembalakan liar.

Presiden Prabowo juga menyampaikan komitmen pemerintah untuk rehabilitasi sawah-sawah yang rusak dan menjanjikan penghapusan utang Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani yang menjadi korban bencana. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban ekonomi masyarakat dan mendorong percepatan pemulihan sektor pertanian.

Dalam konferensi pers, BNPB mengakui bahwa interaksi atmosfer aktif, ditambah dengan kerusakan lingkungan seperti penurunan tutupan vegetasi dan perubahan fungsi lahan, menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir dan longsor di Sumatera. Kapasitas lingkungan untuk menyerap air telah jauh berkurang, membuat wilayah ini rentan terhadap curah hujan ekstrem.

Dengan data korban yang terus bertambah, upaya pencarian bagi 392 orang yang hilang menjadi prioritas utama tim SAR gabungan. Di tengah kondisi cuaca yang masih rawan, seluruh pihak diimbau untuk terus waspada dan bersinergi dalam menghadapi masa tanggap darurat dan transisi ke pemulihan pascabencana.

Back To Top