LACI BERITA – Padang Bencana alam berupa banjir bandang dan luapan sungai kembali menimpa Padang, Sumatera Barat, dan kali ini meluas ke banyak titik permukiman serta menimbulkan dampak serius bagi ribuan warga. Kejadian ini terjadi setelah curah hujan tinggi dan jebolnya bendungan di kawasan Gunung Nago, Pauh, pada dini hari, yang memicu meluapnya air dan lumpur ke area pemukiman.
Luasnya Dampak Pemukiman Terendam, Jembatan dan Akses Putus
Banjir bandang ini merendam banyak pemukiman termasuk di wilayah permukiman seperti Pasar Baru dan sejumlah kelurahan di Padang dengan ketinggian air yang terus meningkat. Banyak rumah terendam, beberapa bahkan hanyut diterjang arus deras.
Selain itu, jembatan dan jalan utama dilaporkan putus, membuat akses transportasi ke dan dari daerah terdampak terhambat. Kerusakan ini menyulitkan upaya evakuasi dan distribusi bantuan ke warga yang membutuhkan.
Menurut data dari pemerintah lokal, hingga kini terdapat 55 titik bencana yang telah tercatat di Kota Padang terdiri dari banjir, banjir bandang, longsor, pohon tumbang, bahkan angin kencang dan puting beliung di beberapa area.
Korban dan Pengungsi Banyak Warga Terpaksa Mengungsi
Akibat bencana ini, puluhan ribu warga terdampak. Di kawasan terdampak seperti Padang dan sekitarnya, tercatat puluhan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal sementara karena rumah mereka terendam parah.
Beberapa warga terpaksa mengungsi ke masjid atau tempat aman lainnya. Seorang warga mengatakan bahwa air mulai masuk ke rumah sekitar pukul 00.10 dini hari dan terus meninggi hingga mencapai ketinggian sekitar 50 cm memaksa ia bersama keluarganya menyelamatkan diri ke masjid terdekat.
Data resmi hingga Jumat (28/11/2025) menunjukkan bahwa ratusan rumah telah tergenang, dan banyak keluarga telah dievakuasi. Pemerintah setempat dan tim penyelamat telah membuka pos pengungsian darurat untuk menampung warga terdampak.
Respon Darurat Evakuasi dan Operasi Penyelamatan
Kondisi di lapangan memaksa tim penyelamat melakukan evakuasi mendesak. Karena banyak jalur darat yang terputus akibat jembatan rusak dan longsor, pihak penyelamat dari BASARNAS mengerahkan transportasi laut untuk menjangkau lokasi terdampak.
Mereka mengerahkan kapal patroli dan tim SAR untuk membawa korban dan mendistribusikan bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau. Operasi ini melibatkan delapan misi penyelamatan di beberapa provinsi terdampak, termasuk di Sumatera Barat.
Pemerintah provinsi pun telah menetapkan status tanggap darurat bencana sejak 25 November dan menyatakan darurat hingga 8 Desember 2025 meskipun jangka waktu ini bisa diperpanjang tergantung perkembangan situasi di lapangan.
Penyebab Kombinasi Hujan Ekstrem dan Jebolnya Infrastruktur
Pakar dan otoritas setempat menyebut penyebab utama banjir bandang kali ini adalah hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari di wilayah Sumatera Barat, menyebabkan sungai dan waduk meluap. Luapan ini diperparah oleh jebolnya bendungan di Gunung Nago, yang melepaskan air dalam jumlah besar ke area pemukiman.
Kondisi geografis dan drainase yang buruk di beberapa area Kota Padang juga memperparah dampak, sehingga air dan lumpur dengan cepat menggenangi rumah warga. Ditambah infrastruktur yang terputus jalan dan jembatan membuat penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi sangat sulit.
Situasi Terbaru & Imbauan Waspada
Hingga saat ini, hujan diperkirakan masih berlangsung di wilayah Sumatera Barat, sehingga potensi bencana susulan tetap tinggi. Pemerintah dan petugas BPBD setempat terus mengimbau warga agar tetap waspada terutama yang tinggal di area rawan banjir, longsor, dan dekat aliran sungai.
Warga diimbau untuk siaga, dan segera evakuasi ke lokasi aman bila situasi memburuk. Khususnya warga di zona-zona terdampak seperti Pauh, Koto Tangah, Nanggalo, Padang Utara, dan Padang Selatan harus waspada terhadap kemungkinan banjir susulan atau longsor.
Pemerintah bersama lembaga bantuan juga tengah mempersiapkan layanan tanggap darurat, suplai makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar bagi pengungsi, sambil menjaga akses transportasi dan jalur komunikasi.
