LACI BERITA – Kematian tragis Alvaro Kiano Nugroho, bocah berusia enam tahun, akhirnya terungkap setelah delapan bulan misteri dan pencarian. Ayah tirinya, Alex Iskandar, kini dihadapkan pada kasus pembunuhan yang mengerikan, ketika bukti digital dan pengakuan menguak bagaimana jasad Alvaro dibuang secara sadis di bawah jembatan di Kabupaten Bogor. Motifnya pun lebih mengerikan dari yang diperkirakan sebelumnya.
Polisi mengungkap bahwa Alex Iskandar menyiksa Alvaro hingga tewas. Berdasarkan keterangan petugas, saat diculik, bocah itu menangis terus menerus. Karena tangisannya, Alex membekap mulut Alvaro menggunakan handuk hingga akhirnya nyawanya tidak tertolong. Setelah kematian Alvaro, Alex tidak langsung membuang mayat anak tirinya. Selama tiga hari, jasad Alvaro disembunyikan di garasi rumah, di balik mobil perak yang terparkir. Setelah itu, Alex membungkus jenazah bocah malang itu dengan plastik berwarna hitam, kemudian membawanya ke lokasi pembuangan di Tenjo, Bogor.
Lokasi tempat pembuangan dipilih dengan sengaja oleh Alex karena dia mengetahui area tersebut dengan sangat baik. Dia memiliki kerabat yang tinggal di Tenjo, dan tempat itu dinilai sepi dan strategis sebagai lokasi menyingkirkan bukti kejahatan. Tepat di bawah Jembatan Cilalay, Desa Singabraja, County Bogor, jasad Alvaro diikat ke batang pohon di pinggir kali agar tidak hanyut. Ketika jenazah itu tergeletak di situ, warga setempat mencium bau busuk menyengat. Beberapa tetangga bahkan curiga ada bangkai hewan. Ketika diselidiki, adik laki-laki Alex sempat mengatakan bahwa bau berasal dari bangkai anjing, bukan manusia.
Jejak digital dari ponsel Alex menjadi kunci dalam penyelidikan. Dalam percakapan WhatsApp, terungkap adanya “perjanjian buang mayat” antara Alex dan orang suruhannya. Melalui jejak ini, polisi bisa memastikan bahwa jasad Alvaro sengaja disingkirkan ke Sungai Bogor. Nenek Alvaro, Sayem, menegaskan bahwa Alex menyewa seseorang untuk melakukan pembuangan tubuh cucunya.
Sebelumnya, Alex mengelak keras ketika ditanyai polisi. Namun bukti dari ponselnya tak bisa disangkal. Dalam konferensi pers, polisi menyebutkan bahwa lokasi pembuangan dipilih karena kerabat tersangka tinggal di sana dan dia sudah sering bolak-balik ke lokasi tersebut. Selain itu, menurut ahli forensik RS Polri, tulang Alvaro yang ditemukan tidak menunjukkan tanda mutilasi. Mereka menyimpulkan bahwa fragmen tulang terlepas akibat proses pembusukan alami, bukan dipotong.
Hebatnya, pelaku sempat meyakinkan salah satu saksi bahwa plastik hitam berisi jenazah itu adalah bangkai anjing. Klaim itu muncul saat Alex menyerahkan plastik kepada seorang saksi berinisial G di Tenjo. Saksi G, yang percaya pada ucapan pelaku, tidak mencurigai isinya lebih jauh. Namun berdasar unit K-9 polisi, akhirnya terungkap ada kerangka manusia di dalam plastik tersebut.
Motif di balik perbuatan keji Alex mulai terkuak. Dalam pemeriksaan, polisi menemukan bahwa Alex merasa tersakiti secara emosional dia didorong oleh dendam pribadi terhadap istrinya karena merasa diselingkuhi saat sang istri bekerja di luar negeri. Indikasi kekesalan ini tampak dalam pesan-pesan digital di ponselnya, di mana Alex menuliskan kalimat penuh kemarahan dan keinginan balas dendam. Saat kecemburuan dan amarahnya memuncak, dia menyalurkannya kepada korban yang paling rentan: anak tirinya sendiri.
Kasus ini juga memperlihatkan betapa liciknya Alex menyusun rencana pembuangan. Tidak hanya menyembunyikan jasad di tempat sepi dan strategis, dia juga menggunakan alibi bangkai hewan agar tumpukan plastik hitam tak diperiksa lebih teliti. Kebohongan ini bahkan bisa menipu saksi yang dia ajak bersekongkol. Semua dilakukan agar jejak kejahatannya hilang secepat mungkin.
Nenek Alvaro, Sayem, mengungkapkan betapa keluarganya terpukul oleh peristiwa ini. Curiga awal muncul bukan dari polisi, tapi dari warga setempat yang mencium bau menyengat di area sampah di bawah jembatan. Sayem menuturkan bahwa kata adik Alex, bau itu berasal dari bangkai anjing. Ironisnya, alibi itu digunakan untuk menutupi pembuangan tubuh seorang anak kecil. Ibu kandung Alvaro, Arum, juga merasakan kegelisahan sejak jauh hari. Dia sempat memiliki firasat kuat terhadap Alex, bahkan dalam mimpinya dia merasa seperti melihat putranya hanyut dalam banjir. Saat itu, dia segera mengambil keputusan untuk menceraikan Alex, meski lelaki itu menolak dengan keras.
