LACI BERITA – Di tengah gemuruh industri musik digital saat ini, musisi dari Indramayu mengambil langkah strategis untuk melawan praktik mafia musik yang selama ini merugikan para pencipta dan seniman lokal. Melalui gagasan dan teknologi, mereka berusaha memperjuangkan hak cipta dan royalti secara adil revolusi kecil namun bermakna dari daratan Pantura.
Sebuah Kenyataan Menyakitkan
Sejumlah musisi dan pencipta lagu di Indramayu, terutama pelaku musik tarling khas Pantura, telah menjadi korban serius dari praktik mafia musik digital. Berulang kali karya mereka diunggah, diunduh, bahkan didaftarkan ulang oleh pihak tak bertanggung jawab ke platform luar negeri. Ironisnya, meski karya itu menghasilkan pendapatan dari iklan atau streaming, seniman asli nyaris tak pernah menerima royalti.
Salah satu cerita yang menyayat hati datang dari pencipta lagu legendaris tarling, Carli Nuryaman (85), yang tinggal di Indramayu. Meski karyanya telah dinikmati banyak orang di platform digital, Carli mengaku tidak menerima royalti sama sekali. Kondisi rumahnya yang sangat sederhana mencerminkan betapa jauh para seniman kecil dari penghargaan finansial yang semestinya mereka dapatkan.
Solusi Lokal: MusikPlus dan Playlist Music
Menanggapi persoalan ini, Richo Irfanto, pendiri PT MusicPlus Media Indonesia, bersama rekannya Triandika Yuniar, meluncurkan sebuah ide revolusioner: membuat sebuah aplikasi agregator musik bernama Playlist Music.
Aplikasi ini bukan sekadar layanan streaming. Menurut Richo, Playlist Music dirancang sebagai agregator distribusi yang terhubung dengan beragam platform musik besar seperti Spotify, YouTube, TikTok, dan Langit Musik. Melalui aplikasi ini, musisi baik pencipta lagu, penyanyi, maupun produser bisa membuat akun resmi, sehingga karya mereka bisa diperiksa, diverifikasi, dan dilindungi dari pendaftaran ulang ilegal.
Yang paling signifikan: Playlist Music telah resmi terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yang memberikan perlindungan hukum bagi karya musisi lokal. Dengan verifikasi tersebut, potensi eksploitasi oleh pihak yang mencuri karya bisa ditekan mafia digital sulit “mengklaim” ulang karya yang sudah terdaftar dengan benar.
Edukasi dan Perlindungan Seniman Daerah
Lebih dari sekadar teknologi, Richo dan tim MusicPlus juga mengedepankan edukasi literasi digital di kalangan musisi Indramayu dan daerah sekitarnya. Banyak seniman tarling tradisional belum “melek digital” dalam hal hak cipta dan distribusi online, sehingga rentan dieksploitasi. Lewat Playlist Music, mereka bisa mendapatkan akses panduan: bagaimana mendaftarkan karya, bagaimana memantau distribusi di platform luar negeri, dan bagaimana melaporkan jika terjadi penyalahgunaan karya.
Fitur pelaporan lengkap dan sistem pembagian royalti otomatis menjadi bagian dari strategi agar hak ekonomi musisi tidak lagi hilang di tengah arus digital. Langkah ini juga menjadi bentuk advokasi: menuntut agar hak digital musisi, terutama di level lokal, diakui dan dihormati.
“Hak digital harus dipenuhi. Royalti harus jelas. Semua harus legal,” tegas Richo.
Peluncuran dan Langkah ke Depan
Menurut rencana, Playlist Music akan resmi diluncurkan pada awal 2026. Platform ini akan menjadi “rumah besar” bagi musisi lokal, terutama seniman daerah yang selama ini tertinggal dalam ekosistem musik digital global. Melalui verifikasi identitas, distribusi global, dan pemantauan karya yang terproteksi, mereka berharap bisa memastikan bahwa pencipta lagu dan artis mendapatkan bagian yang adil dari pendapatan digital.
Selain itu, komitmen MusicPlus juga mencakup kolaborasi dengan musisi organ tunggal, penyanyi tarling, dan pencipta lagu tradisional. Mereka bukan hanya ingin memberi “wadah”, tapi juga memberdayakan seniman agar punya kesadaran tentang nilai karya cipta dan cara mempertahankannya.
Dampak Sosial dan Budaya
Gerakan ini lebih dari sekadar soal uang. Bagi komunitas musik Indramayu, ini adalah upaya mempertahankan dan melestarikan identitas budaya melalui tarling dan lagu daerah. Dengan menjaga karya tetap berada dalam kendali penciptanya, seniman lokal bisa terus berkarya dan membagikan tradisi musikal mereka tanpa takut eksploitasi.
Secara sosial, keberadaan platform seperti Playlist Music juga bisa mendorong kesetaraan: musisi dari daerah, yang mungkin selama ini diabaikan oleh label besar, dapat menembus pasar nasional dan bahkan internasional. Dengan literasi hak cipta yang semakin kuat, generasi seniman berikutnya akan lebih siap menghadapi tantangan era digital.
