Caracas Membara! Lautan Warga Penuhi Jalanan Tuntut AS Bebaskan Nicolas Maduro

Caracas Membara! Lautan Warga Penuhi Jalanan Tuntut AS Bebaskan Nicolas Maduro

LACI BERITA – Suasana di ibu kota Venezuela, Caracas, mencapai titik didih pada pekan pertama Januari 2026. Ribuan hingga puluhan ribu warga dari berbagai penjuru kota tumpah ruah ke jalan-jalan utama, menciptakan pemandangan “lautan merah” yang melambangkan dukungan setia mereka terhadap Presiden Nicolas Maduro. Demonstrasi besar-besaran ini merupakan respons langsung terhadap operasi militer mengejutkan yang dilancarkan Amerika Serikat pada 3 Januari 2026, yang berakhir dengan penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Massa yang membawa bendera nasional kuning, biru, dan merah, serta poster-poster wajah Maduro dan mendiang Hugo Chavez, berkumpul di titik-titik ikonik seperti Taman Ali Primera dan Plaza O’Leary. Mereka menyuarakan kecaman keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai “penculikan kedaulatan” oleh pemerintahan Donald Trump.

Kronologi Penangkapan yang Mengguncang Dunia

Ketegangan bermula ketika pasukan operasi khusus Amerika Serikat melakukan serangan udara dan darat secara mendadak di beberapa lokasi strategis di Caracas, termasuk pangkalan militer Fort Tiuna dan pangkalan udara La Carlota. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Maduro telah ditahan atas tuduhan “narko-terorisme” dan konspirasi untuk menyelundupkan kokain ke Amerika Serikat.

Penangkapan ini segera memicu kemarahan di dalam negeri. Delcy Rodriguez, yang kini menjabat sebagai Presiden Interim Venezuela sesuai keputusan Mahkamah Agung, memimpin seruan persatuan nasional. Dalam pidatonya yang emosional, ia menuntut AS memberikan bukti bahwa Maduro masih hidup dan segera memulangkan sang presiden ke tanah air.

Lautan Manusia dan Tuntutan Pembebasan

Di sepanjang jalan menuju Istana Kepresidenan Miraflores, pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan anti-imperialis. “Bebaskan presiden kami! Venezuela bukan koloni Amerika!” teriak salah satu orator di hadapan massa yang emosional.

Menteri Komunitas Venezuela, Angel Prado, menyatakan bahwa kekuatan rakyat ( power of the people) adalah benteng terakhir negara tersebut.

“Kami ingin memberi tahu dunia bahwa di Venezuela, rakyatlah yang berkuasa. Jika Chavismo tidak memerintah di sini, tidak ada yang boleh memerintah,” tegasnya dalam unjuk rasa di pusat kota Caracas pada Rabu (7/1).

Para demonstran yang sebagian besar berasal dari kelompok milisi pro-pemerintah yang dikenal sebagai Colectivos dan serikat pekerja, bersumpah untuk terus menduduki jalanan sampai tuntutan mereka dipenuhi. Mereka juga mengecam serangan udara AS yang dilaporkan merusak infrastruktur sipil, termasuk jaringan telekomunikasi dan perumahan, yang menurut sumber tidak resmi telah menelan puluhan korban jiwa.

Reaksi Internasional dan Krisis Minyak

Aksi protes ini tidak hanya terjadi di Caracas. Gelombang solidaritas muncul di berbagai kota dunia seperti Madrid, Mexico City, hingga Jakarta, di mana para aktivis menuntut penghentian intervensi militer AS. Negara-negara sekutu Venezuela seperti Rusia, China, dan Iran telah mengeluarkan kecaman keras, menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Sementara itu, pasar energi dunia ikut terguncang. Mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, penangkapan pemimpinnya telah memicu spekulasi mengenai kontrol atas pasokan minyak mentah. AS dilaporkan mulai menyita kapal-kapal tanker “armada bayangan” Venezuela, sebuah langkah yang disebut oleh para pakar sebagai upaya untuk melumpuhkan ekonomi Caracas secara total.

Masa Depan Venezuela di Persimpangan Jalan

Kondisi di Caracas saat ini masih sangat fluktuatif. Meskipun ribuan orang mendukung Maduro, laporan lain menyebutkan adanya warga yang merasa was-was akan terjadinya perang saudara. Pihak kepolisian dan militer Venezuela terlihat bersiaga penuh di perbatasan, sementara kolombia juga telah mengerahkan tentaranya ke wilayah perbatasan untuk mengantisipasi eksodus pengungsi.

Bagi para pendukung Maduro di jalanan Caracas, perjuangan ini bukan hanya soal satu orang, melainkan soal harga diri sebuah bangsa.

“Kami telah dilatih oleh Presiden Maduro untuk menghadapi saat-saat seperti ini. Kami tidak akan membiarkan pemerintah ini jatuh ke tangan asing,” ujar Jorge Arreaza, salah satu tokoh senior pemerintah.

Back To Top